pengertian hati nubari

April072012
Pada dasarnya setiap manusia memiliki ruh, ruh ini adalah sesuatu yang di tiupkan oleh Allah Swt kedalam jasad manusia untuk bisa membuatnya hidup dan beraktifitas sebagaimana layaknya manusia, manusia mempunyai kewajiban kepada penciptaNya, yakni wajib berbuat amal ibadah kepadaNya dan wajib pula menjauhi segala hal maksiat atau berbuat dosa sebagaimana yang di larangNya.
            Permulaan ruh manusia pada dasarnya suci, akan tetapi karena pengaruh iblis, syaithan dan jin maka ia bisa menjadi buruk pekertinya dan senantiasa berkegiatan maksiat yang di murkai oleh Allah Swt, apalagi suka berbuat syirik, ruh manusia di huni oleh sifat madzmumah (buruk) jika seseorang manusia tersebut tidak mau mengendalikannya, paling parah bahayanya adalah hawa dan nafsu yang tidak terkendali, maka ini adalah bibit dari segala sifat buruk.
            Hati sanubari manusia tersembunyi di balik hawa dan nafsunya, jika hawa dan nafsu tersebut tidak di pimpin dan di arahkan kepada yang baik (berbuat taat), maka seseorang manusia tidak akan tahu dan mengerti apa itu hati sanubari atau qalbiy, sementara yang dapat mengenali Allah Swt hanyalah hati sanubari (Qalbiy) dengan pancaran nur illahi yang di berikanNya karena senantiasa beramal shaleh dengan ikhlas.
             Dalam qalbiy manusia banyak menyimpan rahasia – rahasia, yang di kupas di sini adalah pemahamannya secara dasar, sebab jika hawa dan nafsu belum di bersihkan atau steril dari sifat buruk, maka akan susah bagi seseorang hamba untuk taat secara menyeluruh kepadaNya, upaya mendidik hawa nafsu ini mesti dengan semangat yang tinggi dan tekun beribadah kepadaNya sambil mengharapkan karunia ketetapan sikap untuk selalu patuh dan taat padaNya.
Seseorang hamba yang beriman sudah semestinya menjaga nafzu dari perbuatan – perbuatan maksiat yang di larang oleh Allah Swt, yang di tuntut adalah menjauhi laranganNya dan menjalankan perintahNya, di kala nafsu sudah mulai reda dari perbuatan yang munkar dan maksiat, maka timbullah padanya nafsu yang tenang serta terpimpin selalu pada kebaikan.
            Namun terkadang nafsu bisa juga sewaktu – waktu lalai atau bisa juga terkadang lalai terkadang ingat, bahkan ada juga antara lupa dan ingat, lupa ia akan kewajiban menjalankan ketaatan kepada Allah Swt, situasi yang antara lalai dan ingat mesti di jauhi sebab sama bahayanya dengan lalai secara penuh.
            Seseorang hamba yang sudah bisa menguasai nafsunya maka ia mendapatkan nafsu yang tenang dan senantiasa menjaga dari perbuatan maksiat, ingkar dan lalai, namun hanya tinggal dorongan – dorongan untuk selalu berbuat taat dalam beribadah, sekurang – kurangnya yang fardhu saja, ini sudah cukup memadai bagi seseorang muslim, jika ia bisa pula menambah ketaatan dengan rutin melaksanakan ibadah sunat lainnya, maka inilah yang di namakan seseorang hamba yang memiliki nafsu muthma’innah (nafsu yang tenang) sebagai firman Allah Swt dalam Qur’an Surah Al-Fajr Ayat 27/28 :

“Yaa ayyatuhannafsul muthma’innah.”
Artinya : “Hai jiwa yang tenang.”
    
“Irji’I lla rabbiki raadhiayatam mardhiyah.”
Artinya : “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi di ridhai-Nya.”

Hamba yang taraf ruhnya sudah sampai pada derajat nafsu yang terpimpin secara demikian maka hatinya sudah mencapai derajad yang di namakan Qalbiy, nafsunya sudah reda dan tidak lagi mengajak kepada perbuatan maksiat atau munkar, ia akan merasa malu kepada Allah Swt jika berbuat maksiat, jika ada muncul rasa keinginan untuk berbuat maksiat atau lalai kepadaNya, maka ia cepat dan segera mohon ampun kepada Allah Swt atas keinginan yang demikian, walalupun hal yang maksiat belum ia lakukan tetapi hanya sebatas baru niat saja, nah, biar sebatas niat saja maka hal tersebut dapat menutupi nurnya hati akan keimanan, inilah selalu di jaga oleh seseorang hamba yang taraf nafsunya sudah mengenal Qalbiy.
          
            Seseorang hamba yang mengenal hati sanubarinya (Qalbiy) akan selalu bersikap malu kepada Allah Swt akan berbuat maksiat atau ingkar dalam beribadah, ia sangat kokoh dari jurang perbuatan maksiat dan dosa,   ibadahnya bagi seseorang hamba yang sudah mengenal qalbiynya sendiri,  akan terasa indah dan nikmat dalam kemanisan beribadah kepada Allah Swt, jika ada saja yang lalai maka ia sangat akan menyesalinya, ibadahnya mencapai tahap khusyu’, amalannya mencapai tahap ikhlas yang murni tanpa ada maksud dan pamrih tertentu, tetapi hanya mengharapkan keridhaan Allah Swt semata.
            Hati seseorang hamba yang mengenal qalbiynya akan mendapatkan limpahan nur illahi, serta seluruh karunia dan ilmu yang di berikan akan tersa meresap kedalam hati sanubarinya (Qalbiy), sehingga ia mencapai tahap rasa syukur yang tertinggi bagi yang di miliki oleh seseorang hamba.
            Mengenai hal ini Allah Swt dengan firmanNya :
  
”Innamal mu’minuunalladzina ’idza dzukirallahu wajilat quluubuuhum waidza tulibat ’alaihim ’aayaatuhu dzadathum ’imaanan wa’alaa rabbihim yatawakkaluun.”
Artinya : ”Sesungguhnya orang - orang yang beriman ialah mereka yang bila di sebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila di bacakan ayat - ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

            Ruhnya orang yang mengenal qalbiy ini akan senantiasa bertawajjuh (berhadap hati) kepada tuhannya, dalam kondisi apapun juga ia akan selalu ingat kepadaNya, jika di dengarkan ayat Al-Qur’an maka gemetarlah seluruh tubuhnya yang di sebabkan ketakutan dan pengharapan kepada Allah Swt, jika sudah sedemikian maka selamatlah kehidupan dunia dan akhiratnya.
            Oleh karena itu didiklah nafsu agar menjadi tenang dan bisa di pimpin, sebab hal ini membawa kepada keselamatan sebagaimana firman Allah Swt Surah Asy-Syu’ara Ayat 88-89 :
  
”Yaumala yanfa’u maalun wala banuun.”
Artinya : ” (yaitu) di hari harta dan anak - anak laki - laki tidak berguna.”

”Ila man’atallaha biqalbin saliimi.”
Artinya : ”Kecuali orang - orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

            Sinarilah secara terus menerus hatimu agar menjadi hati sanubari (Qalbiy) yang bersih dan penuh dengan cahaya (nur) illahi melalui tawajjuh dzikir yang berkepanjangan dan berkekalan (ingat) baik di sengaja (dzikir) maupun tidak di sengaja (ingat) di manapun dan kapanpun juga, nafsu yang tenang dan hati yang jernih inilah kesempurnaan ruh bagi seseorang hamba atau insan yang kamil.
            Ruh beserta zahirnya seseorang hamba tersebut akan senantiasa berhadap kepada penciptaNya dengan ketenangan yang luar biasa di saat shalat dan dzikir, menjadikannya khusyu’ dalam melaksanakan amal – amal shaleh, ia akan merasakan betapa nikmatnya di saat shalat ketika mengucapkan “Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharassamaawaati wal ardha…” artinya : “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku (beserta seluruh jiwa ragaku) ke hadhirat dzat yang menciptakan langit dan bumi….”
Share on Facebook Share on Twitter

Comments

No comments yet. Why not make the first one!

New Comment

[Sign In]
Name:

Comment:
(You can use BBCode)

 
Back to Top